Labels

Rabu, 19 Mei 2010

Pembuatan Vernis

Vernis adalah pewarna kayu yang dibuat dengan prinsip pelarutan. Pada percobaan ini, vernis dibuat dengan melarutkan damar dalam spiritus. Spiritus digunakan sebagai pelarut karena merupakan pelarut organik dimana damar sendiri mengandung berbagai macam senyawa organik.



A. JUDUL PERCOBAAN
Judul percobaan yang dilakukan adalah Pembuatan Vernis. Proses pembuatan vernis ini dilakukan pada tanggal 23 Februari 2009 dan berakhir pada tanggal 9 Maret 2009.

B. PRINSIP KERJA
Prinsip kerja pada pembuatan vernis ini adalah pelarutan. Proses pelarutan damar yang berupa granula dengan menggunakan spiritus.

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Gelas kimia 250 mL 2 buah
Batang pengaduk 1 buah
Gelas kimia 500 mL 1 buah
Gelas ukur 250 mL 1 buah
Neraca digital
Kain
2. BAHAN
Damar granula 125 gram
Spiritus 250 mL
Pewarna kayu 1 bungkus
Amplas
D. PENDAPAT KONSUMEN
Konsumen memiliki pendapat yang beragam mengenai hasil pembuatan vernis yang dibuat oleh kelompok kami, tetapi sebagian besar merasa cukup dengan hasil yang diperoleh.

E. BIAYA
Damar 250 gram : Rp 8.000,-
Pewarna 1 bungkus : Rp 500,-
Amplas : Rp 2.500,-
Total : Rp 11.000,-
Untuk menghasilkan 500 mL vernis dibutuhkan biaya:
Damar 250 gram : Rp 8.000,-
Spiritus 500 mL : Rp 7.500,-
Total : Rp15.500,-
Jadi, untuk menghasilkan 500 mL vernis dibutuhkan biaya Rp 15.500,- dan harga vernis yang dijual dipasaran untuk setengah liter adalah Rp 25.000,- sehingga keuntungan yang didapatkan dari pembuatan vernis sebanyak setengah liter adalah:
= harga setengah liter vernis dipasaran – harga vernis buatan sendiri
= Rp 25.000, - Rp 15.500,
= Rp 9.500,-
Jadi, keuntungan yang diperoleh adalah Rp 9.500,-.
F. PROSEDUR KERJA.
1. Melarutkan 250 gram damar dengan 500 mL spiritus lalu mengaduknya.
2. Mendiamkan beberapa saat hingga damar yang tidak terlarut mengendap di dasar wadah (biasanya diperlukan waktu semalaman).
3. Setelah terpisah sempurna, bagian atas (bagian inilah yang merupakan vernis) dipisahkan dengan endapannya kemudian meletakkannya di wadah lain
4. Menambahkan pewarna lalu mengaduknya hingga warna tercampur sempurna.
5. Membersihkan kursi yang akan divernis dengan amplas. Untuk memudahkan proses mengamplas, terlebih dahulu kursi dibasahi dengan air.
6. Memvernis kursi tersebut dengan menggunakan kuas dengan tiga kali proses pelapisan. (proses ini dilakukan dengan cara vertikal-horizontal-vertikal). Sebaiknya proses ini dilakukan pada saat udara panas.
7. Menjemur kursi hingga vernis melekat sempurna.

G. CARA KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Memasukkan 125 gram damar ke dalam gelas kimia 500 mL.
3. Menambahkan 250 mL spiritus kemudian mengaduk campuran hingga damar terlarut dengan sempurna.
4. Menyaring campuran damar dan spiritus dengan menggunakan kain, atau dapat pula dilakukan dengan mendiamkan beberapa saat setelah proses pelarutan kemudian mengambil bagian atas larutan (vernis).
5. Menambahkan pewarna secukupnya kemudian mengaduk vernis.
6. Membersihkan meja dengan menggunakan amplas.
7. Melapisi meja dengan vernis yang telah dibuat dengan 3 kali proses pelapisan.
H. URAIAN.
Damar adalah hasil sekresi (getah) dari pohon Shorea sp., Vatica sp., Dryobalanops sp., dan lain-lain dari suku meranti-merantian atau Dipterocarpaceae. Di dalamnya termasuk damar mata kucing dan damar gelap. Damar dimanfaatkan dalam pembuatan korek api (untuk mencegah api membakar kayu terlalu cepat), plastik, plester, vernis dan lak (http://id/wikipedia.org/wiki/damar)
Damar mata kucing (Shorea javanica K. et. V.) tergolong dalam keluarga Dipterocarpaceae. Kayu S. javanica di pasaran internasional dikenal sebagai meranti putih (White meranti), dan tergolong sebagai kayu daun lebar keras ringan (light hardwood). Berdasarkan taksonominya, damar mata kucing digolongkan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae/tumbuhan
Divisio : Magnophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Dipterocarpaceae
Subfamili : Dipterocarpoideae
Genus : Shorea
Species : Shorea javanica K. et. V. (Appanah dan Turnbull, 1998).
Famili Dipterocarpaceae merupakan penghasil resin yang penting. Resin disekresikan melalui saluran damar, dan secara normal menetes melalui kulit kayu. Berdasarkan bentuknya, ada dua macam resin. Yang pertama adalah resin cair yang mengandung material resin dan minyak esensial (oleoresin), yang secara alami tetap berwujud cair dan memiliki aroma yang jelas. Dalam literatur, resin jenis ini umumnya disebut oleoresin. Produksi komersial sering dilakukan dengan membuat luka. Yang kedua adalah resin keras yang disebut “damar” jika diambil dari Dipterocarpaceae. Resin ini berbentuk padatan atau resin yang mudah pecah, yang merupakan hasil dari pengerasan dari eksudat yang diikuti penguapan sebagian kecil kandungan minyak esensialnya (Appanah dan Turnbull 1998).
Resin mengandung asam yang dapat mengkristal, yaitu asam gurjunik (C22H34O4), dan sejumlah kecil naphtha, yang mungkin menguap karena pemanasannya dengan ammonia dan 0.08% alkohol. Sebagian naphtha akan diserap oleh benzol atau sulfida dalam karbon. Sebagian resin yang tidak dapat dipecahkan di dalam alkohol mutlak tidak dapat mengkristal. Sifat fisik yang luar biasa dari minyak ini adalah pada temperatur 130oC dapat menjadi gelatin, dan 7 pendinginan tidak dapat membekukan pencairan ini (Appanah dan Turnbull 1998).
Damar adalah resin yang keras, padat dan mudah pecah, dengan pengerasan segera setelah dieksekresikan, jika mengandung minyak esensial yang dapat diuapkan dalam jumlah yang kecil. Walaupun semua dipterocarpceae menghasilkan damar, hanya sebagian kecil yang memiliki nilai komersial penting. Di Asia Tenggara, genus penting penghasil damar adalah Shorea, Hopea dan Neobalanocarpus. Damar ditemukan sebagai eksudat alami pada pohon yang hidup, berbentuk bungkahan, di atas tanah di bawah pohon, di dekat tunas yang mati, bahkan terkubur di dalam tanah. Secara alami damar dieksudasi oleh tumbuhan yang sakit, atau mengalami kerusakan pada kayu gubalnya (Appanah dan Turnbull 1998).
Secara tradisional, damar digunakan sebagai bahan bakar obor penerang, penambal perahu, dan kerajinan tangan. Resin Dipterocarpaceae juga digunakan sebagai campuran resin aromatik yang berupa Styrax benzoin (Stiracaceae) yang digunakan sebagai kemenyan dan obat-obatan. Damar secara luas digunakan sebagai kemenyan untuk upacara keagamaan dan sebagai desinfektan fumigant. Sejumlah besar damar juga dibutuhkan pada “Samagri” untuk kremasi jenazah. Damar dapat digunakan sebagai lilin pengeras pada industri semir, kertas karbon, pita mesin ketik, industri vernis, dan bantalan objek mikroskopik. Damar juga digunakan sebagai pelapis dinding dan atap, perekat kayu lapis dan asbes (Appanah dan Turnbull 1998).
Resin digunakan sebagai obat tradisional sebagai astringent dan detergen yang diberikan pada penderita diare dan disentri. Damar juga digunakan sebagai salep untuk penyakit kulit dan menyembuhkan gangguan pendengaran, kerusakan gigi, sakit mata, bisul dan luka (Appanah dan Turnbull 1998). Lebih jauh, damar juga digunakan pada berbagai kegiatan teknis seperti pembuatan cat, celupan batik, lilin pelayaran, tinta cetak, linoleum dan kosmetik. Triterpenes yang diisolasi dari damar telah digunakan sebagai media antivirus pada budidaya in vitro, untuk mengatasi penyakit Herpes simplex virus tipe I dan II (Poehland et all 1996).
Di bidang kimia, alkohol adalah nama kumpulan persenyawaan-persenyawaan organik bergolongan OH yang biasanya terikat kepada rantai yang bersifat paraffin. Ada juga etilalkohol yang disebut etanol, yaitu CH3, CH2, OH. Zat cair yang tak berwarna yang dapat menguap.
Dalam teknik, alkohol sangat banyak dipergunakan, baik sebagai bahan pelarut maupun sebagai bahan pangkal untuk sintesa-sintesa selanjutnya, dipergunakan juga dalam industri bahan obat-obatan dan makanan (minuman keras) juga dalam industri minyak wangi (eau de cologne).
Adapun spiritus, adalah larutan alkohol dalam air (kadar aikoholnya kira-kira 85 persen). Larutan ini dibubuhi sesuatu zat yang beracun misalnya methanol, supaya tak dapat digunakan untuk minuman-minuman keras. Untuk menandainya, spiritus diberi warna biru.
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.
Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbondioksida dan air.
Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon dioksida dan air adalah sebagai berikut:
2 CH3OH + 3 O2 → 2 CO2 + 4 H2O
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tak terlihat.
Karena sifatnya yang beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan industri; Penambahan "racun" ini akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras (minuman beralkohol). Metanol kadang juga disebut sebagai wood alcohol karena ia dahulu merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat ini metanol dihasilkan melului proses multi tahap. Secara singkat, gas alam dan uap air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan karbon monoksida; kemudian, gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap pembentukannya adalah endotermik dan tahap sintesisnya adalah eksotermik.

Gambar: damar mata kucing.
I. PEMBAHASAN.
Vernis adalah pewarna kayu yang dibuat dengan prinsip pelarutan. Pada percobaan ini, vernis dibuat dengan melarutkan damar dalam spiritus. Spiritus digunakan sebagai pelarut karena merupakan pelarut organik dimana damar sendiri mengandung berbagai macam senyawa organik.
Langkah pertama pada proses pembuatan vernis ini adalah dengan melarutkan 125 g damar dalam 250 ml spiritus. Setelah damar dianggap larut sempurna, langkah berikutnya adalah dengan menyaring larutan untuk memisahkan kotoran dan atau sisa damar yang belum larut agar pada saat memvernis, kotoran-kotoran tersebut tidak melekat pada objek -dalam pecobaan ini digunakan meja- sehingga permukaan meja menjadi halus . Adapun warna vernis yang diperoleh adalah cokelat muda. Adanya warna cokelat muda ini disebabkan karena terdapatnya senyawa flavonoid yang merupakan zat warna alami pada damar.
Vernis yang diperoleh ditambahkan dengan pewarna kayu yang berwarna cokelat tua. Sebenarnya, pewarna yang ditambahkan tidak harus berwarna cokelat tua dan bisa juga tidak ditambahkan pewarna, tergantung selera kita.
Selanjutnya dilakukan pengecatan pada permukaan meja yang sebelumnya sudah diamplas agar hasilnya lebih bagus. Proses pengecatan dilakukan dengan tiga kali pengolesan agar hasil yang diperoleh lebih bagus. Damar yang telah larut dalam spiritus ketika dioleskan ke meja maka, damar akan tertinggal/melekat pada meja sedangkan spiritusnya menguap. Hal inilah yang menyebabkan meja menjadi berbeda dengan sebelum proses pengecatan yaitu lebih mengkilap dan lebih halus. Dan proses pelarutan pada pembuatan vernis merupakan proses fisika yang tidak terjadi reaksi kimia hanya perubahan bentuk dari padat-cair-padat.
Hasil dari percobaan pembuatan vernis ditunjukkan pada gambar










J. EVALUASI
1. Apa yang menyebabkan sehingga meja yang di vernis dapat mengkilap?
Damar merupakan resin yang kompleks dan pada proses pembuatan vernis ini prinsip kerjanya adalah pelarutan yang merupakan proses kimia. Damar yang dilarutkan dalam spritus mengalami perubahan fisik dari bentuk padatannya dan menyatu dengan spiritus dan ketika proses memvernis dilakukan damar menempel pada meja dan spiritusnya menguap. Damar yang tertempel pada meja inilah yang menyebabkan meja menjadi mengkilap.
2. Mengapa dilakukan tiga kali proses pelapisan?
Hal ini dilakukan agar hasil yang diperoleh lebi bagus dan untuk menghilangkan garis-garis pengolesan sebelumnya. Jadi proses pengolesan dilakukan vertical-horizontal-vertikal.
3. Mengapa ditambahkan pewarna?
Proses penambahan warna dapat dilakukan dapat juga tidak ditambahkan pewarna, tergantung selera konsumen. Hanya saja pada percobaan ini, objek yang akan divernis masih terdapat kotoran-kotoran yang tidak dapat dihilangkan dengan mengamplas sehingga ditambahkan pewarna yang gelap agar hasil yang diperoleh lebih indah dan bersih.
4. Mengapa meja perlu divernis?
Suatu furniture yang terbuat dari kayu memiliki sifat yang mudah lapuk/tidak awet terlebih jika furniture tersebut sering terkena hujan dan panas matahari. Untuk mengawetkan sekaligus memperindah furniture tersebut dilakukanlah proses memvernis sehingga furniture semakin indah dan tahan lama.

K. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa vernis dapat dibuat dari damar dan spiritus dengan prinsip kerja pelarutan dengan biaya yang kecil dan hasil yang cukup memuaskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar